Karawang, mediaintijaya.id
SENIN, 6 April 2026, menjadi saksi bisu pecahnya gelombang "Jiwa Korsa" yang tak terbendung. Ribuan Kepala Desa dan Perangkat Desa dari seluruh penjuru Jawa Barat tumpah ruah, mengepung pusat arogansi di Karawang. Mereka hadir bukan untuk sekadar berteriak, melainkan untuk memulihkan marwah korps yang diduga telah diinjak-injak oleh kekuatan korporasi PT Pertiwi Lestari.
Insiden berdarah di Desa Wanasari, Kecamatan Telukjambe Barat, bukan lagi sekadar konflik lokal. Ia telah bermetamorfosis menjadi simbol perlawanan kolektif terhadap penindasan aparatur desa.
H. Sukarya WK: "Kami Adalah Negara di Akar Rumput, Jangan Rendahkan Kami!"
Di garda terdepan aksi, H. Sukarya WK, Kepala Desa Wanasari sekaligus representasi luka APDESI Jawa Barat, berdiri dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Suaranya membelah kerumunan, mengirimkan pesan siberian ke gedung-gedung tinggi korporasi.
"Hari ini, kita membuktikan bahwa desa bukan sekadar pelengkap administrasi yang bisa disingkirkan saat modal bicara! Kita adalah akar Republik!" tegas H. Sukarya di hadapan massa DPD APDESI Merah Putih.
"Jika satu tetes darah perangkat desa tumpah karena menjaga aset rakyatnya, maka seluruh Kepala Desa di Jawa Barat ikut terluka. Kami datang untuk menuntut kehormatan kembali!"
Gema Perlawanan dari Garut: Jarak Bukan Penghalang
Solidaritas ini membuktikan bahwa persaudaraan para pemimpin desa tidak mengenal batas teritorial. Ketua DPC APDESI Merah Putih Kabupaten Garut, H. Oban, terpantau hadir langsung di lokasi, memimpin rombongan dari Priangan Timur sebagai bentuk dukungan konkret.
Dukungan moral yang sangat tajam juga datang dari Asep Haris, Kepala Desa Sukalilah, Sukaresmi, Garut. Melalui pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa pengabaian terhadap kasus Wanasari adalah bentuk penghinaan terhadap seluruh pelayan rakyat.
"Saya berdiri bersama rekan-rekan di Karawang. Aparatur desa adalah benteng terakhir pelayanan rakyat. Jika kami dikriminalisasi dan tidak dilindungi secara hukum, maka kedaulatan negara di tingkat desa sedang terancam. Kami menuntut perlindungan nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas!" ungkap Asep Haris dengan nada tegas.
Ultimatum Terakhir: Mitra Strategis atau Perlawanan Tanpa Batas
Tuntutan massa sangat jelas dan tidak bisa ditawar: Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus segera mengeluarkan regulasi proteksi hukum bagi perangkat desa. APDESI menegaskan bahwa investor tidak boleh lagi memandang rendah pemerintah desa. Setiap perusahaan yang menancapkan kaki di tanah Pasundan wajib menjadikan desa sebagai Mitra Strategis, bukan objek intimidasi ormas bayaran.
Pesan hari ini telah tertanam di aspal Karawang: "Jangan Bangunkan Macan Tidur." Satu desa tersakiti, ribuan desa berdiri. Jika martabat dilecehkan, Jawa Barat siap diguncang oleh gelombang solidaritas yang lebih besar.
Aksi ini ditutup dengan tertib, namun api perjuangan tetap menyala. Desa telah membuktikan kekuatannya, dan kini dunia usaha serta penguasa harus memilih: Menghormati atau Menghadapi.
(Agus)


0 Komentar